Mengenal Tokoh-Tokoh yang Dihauli Masyarakat Dusun Dahanrejo Kidul Gresik, Jejak Dakwah yang Terawat dalam Tradisi
Dahanrejo Kidul – Di tengah arus modernisasi yang terus berkembang, masyarakat Dusun Dahanrejo Kidul, Desa Dahanrejo, Kecamatan Kebomas, Kabupaten Gresik, tetap memelihara tradisi luhur yang diwariskan para pendahulu. Salah satu warisan budaya yang masih lestari hingga kini adalah tradisi haul para tokoh yang diyakini memiliki peran penting dalam sejarah dusun sekaligus perjalanan dakwah Islam di wilayah Gresik.
Bagi masyarakat Dahanrejo Kidul, haul bukan sekadar agenda keagamaan tahunan. Tradisi ini menjadi ruang untuk mengenang jasa, keteladanan, dan perjuangan para leluhur yang mewariskan nilai-nilai keislaman, semangat kebersamaan, serta kecintaan terhadap kampung halaman. Melalui pembacaan tahlil, doa bersama, dan pengajian, masyarakat tidak hanya mendoakan para pendahulu, tetapi juga merawat ikatan spiritual dengan sejarah yang hidup di tengah mereka.
Berdasarkan penuturan para sesepuh, terdapat empat tokoh yang senantiasa dikenang dalam tradisi haul, yakni Nyai Ageng Sulastri Mentik, Raden Said Widodo, Senopati Kebo Lanang, dan Warok Joko Samudero. Kisah-kisah mengenai mereka menjadi bagian dari tradisi lisan masyarakat yang hingga kini tetap terpelihara sebagai bagian dari identitas sejarah Dusun Dahanrejo Kidul.
Baca Juga; https://desadahanrejo.gresikkab.go.id/artikel/2026/6/24/haul-mbah-ndahan-2026-siap-digelar-ketua-panitia-ajak-masyarakat-meramaikan-acara
Sesepuh Desa Dahanrejo, Kamran Basuki, menuturkan bahwa menurut ceritanya, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Dahanrejo pada mulanya bernama Desa Daharan. Nama tersebut diyakini berasal dari kebiasaan Sunan Giri yang selalu singgah untuk beristirahat dan menikmati hidangan di kawasan tersebut saat melakukan perjalanan dakwah ke wilayah sebelah barat.
Menurut Kamran Basuki, kawasan itu menjadi salah satu titik persinggahan Sunan Giri beserta rombongannya. Dalam cerita yang hidup di tengah masyarakat, hidangan bagi rombongan dakwah disiapkan oleh Nyai Ageng Sulastri Mentik sebagai bentuk pengabdian dan dukungannya terhadap perjuangan syiar Islam. Dari kebiasaan daharan atau makan itulah kawasan tersebut kemudian dikenal sebagai Desa Daharan, yang seiring perjalanan waktu berubah penyebutannya menjadi Desa Dahanrejo.
Dalam tradisi lisan masyarakat, Nyai Ageng Sulastri Mentik dikenal sebagai sosok perempuan tangguh yang memiliki peran penting dalam mendukung perjalanan dakwah Sunan Giri. Beliau dipercaya menyiapkan kebutuhan logistik dan hidangan bagi Sunan Giri beserta rombongan ketika melakukan perjalanan dakwah ke berbagai wilayah. Pengabdiannya menjadi gambaran bahwa keberhasilan dakwah tidak hanya ditopang oleh para ulama yang menyampaikan syiar secara langsung, tetapi juga oleh mereka yang mengabdi dengan penuh keikhlasan di balik layar.
Sementara itu, Raden Said Widodo dikenal sebagai salah satu santri utama Sunan Giri yang memiliki kedalaman ilmu agama dan spiritualitas. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, beliau dipercaya membina bidang kemakrifatan di lingkungan Pesantren Giri. Tradisi lisan juga menyebutkan bahwa Raden Said Widodo merupakan suami dari Nyai Ageng Sulastri Mentik. Keduanya diyakini mengabdikan hidup untuk mendukung perjuangan dakwah Sunan Giri sehingga keteladanan mereka terus dikenang oleh masyarakat hingga kini.
Selain kedua tokoh tersebut, masyarakat juga mengenang Senopati Kebo Lanang yang dipercaya sebagai pengawal setia rombongan dakwah Sunan Giri. Sosoknya melambangkan pentingnya peran para penjaga keamanan dalam mendukung kelancaran perjalanan dakwah Islam pada masa itu.
Baca Juga; https://desadahanrejo.gresikkab.go.id/artikel/2025/7/6/warga-dahanrejo-kidul-gresik-gelar-haul-mbah-dahan-peringati-tokoh-dan-rawat-tradisi
Tokoh lain yang memiliki tempat istimewa dalam sejarah Dahanrejo adalah Warok Joko Samudero. Berdasarkan cerita para sesepuh, beliau merupakan utusan Maulana Ishaq, ayahanda Sunan Giri, yang mendapat amanah untuk mencari sekaligus menjaga keberadaan putranya. Setelah menjalankan tugas tersebut, Warok Joko Samudero diyakini menetap di wilayah Dahanrejo dan menjadi bagian dari sejarah lokal yang terus dikenang masyarakat hingga sekarang.
Hingga saat ini, nama-nama para tokoh tersebut tidak hanya hidup dalam cerita masyarakat, tetapi juga terus diwariskan kepada generasi muda melalui tradisi haul yang rutin diselenggarakan setiap tahun. Tradisi ini menjadi sarana untuk merawat sejarah lokal, memperkuat identitas desa, sekaligus menanamkan nilai-nilai pengabdian, kebersamaan, dan semangat dakwah kepada generasi penerus.
Bagi masyarakat Dusun Dahanrejo Kidul, haul merupakan lebih dari sekadar tradisi mengenang para leluhur. Haul menjadi wujud penghormatan atas jasa para tokoh yang diyakini turut mewarnai sejarah desa sekaligus menjadi media pewarisan nilai-nilai luhur kepada generasi berikutnya.
Meski sebagian kisah tersebut belum banyak didukung oleh sumber-sumber sejarah tertulis maupun kajian akademik, keberadaannya tetap memiliki nilai penting sebagai warisan budaya lokal yang hidup di tengah masyarakat.
Di tengah perubahan zaman, tradisi haul menjadi pengingat bahwa Dusun Dahanrejo Kidul bukan sekadar kawasan permukiman, melainkan juga menyimpan memori kolektif tentang perjalanan dakwah Islam yang terus dirawat, dihormati, dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.